Masalah Bukan untuk Dihindari, tetapi untuk Dihadapi dengan Iman
Hidup manusia tidak pernah berjalan lurus. Ada hari ketika kita dihinggapi masalah, ada pula hari ketika bahagia memenuhi dada. Begitulah hidup: dinamis, mudah berubah, sementara, dan fluktuatif. Tidak ada kesedihan yang abadi, dan tidak ada kebahagiaan yang menetap selamanya. Karena itu, hadirnya masalah adalah keniscayaan, bagian dari takdir yang melekat pada status kita sebagai manusia.
Setiap orang memikul masalah yang berbeda. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan kesehatan, keluarga, pekerjaan, atau perasaan. Tingkat kesulitannya pun tidak sama, dan itu adalah realita yang perlu kita terima. Yang menentukan bukan seberapa besar masalah itu, melainkan bagaimana kita merespons dan bereaksi terhadapnya. Dua orang bisa menghadapi persoalan yang sama, tetapi yang satu runtuh dan yang lain justru tumbuh.
Dalam pandangan spiritualis sufism, masalah bukan sekadar nasib buruk. Ia adalah cara Allah mengingatkan manusia yang telah terlalu jauh dari-Nya, agar ia kembali mendekat. Banyak orang baru mengangkat tangan dan menangis dalam sujud ketika hidupnya terasa sempit. Dari sisi ini, masalah adalah bentuk perhatian Allah yang menarik hamba-Nya pulang. Allah juga menegaskan bahwa Dia tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286), dan bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah: 5-6). Masalah bisa menjadi Alarm pengingat bahwa kita terlalu Jauh dan menjauh dari Nya, masalah juga bisa menjadi tanda bahwa jiwa manusia terlalu rapuh dan perlu dikuatkan dengan kembali mendekat kepada Nya
Value iman memang tidak menghapus masalah tetapi iman dapat meneguhkan perasaan, iman pun bisa menguatkan dalam kerapuhan. 2 masalah yang sama di alami oleh orang yang juga memiliki kesamaan antar keduanya, bisa berbeda rasa dan respon orang ditimbulkan, tergantung kualitas hati dan spirit batin yang tumbuh didalam hati dan jiwa nya.
Dari sudut pandang tokoh jenaka era orde baru, Ada ungkapan yang sering dinisbatkan kepada trio Dono, Kasino, dan Indro: *masalah menjadi masalah kalau dijadikan masalah, dan masalah tidak menjadi masalah kalau tidak dijadikan masalah*. Kalimat ini terdengar jenaka, tetapi isinya dalam. Beratnya sebuah persoalan sering kali ditentukan oleh cara kita memaknainya. Persoalan yang sama bisa menjadi beban yang meremukkan atau sekadar tantangan yang dilewati, tergantung apakah hati kita menjadikannya pusat dunia.
Pesan senada muncul dalam nasihat oleh pakar psikologi Stephen Covey: ia mengatakan *masalah menjadi berat ketika selalu dipikirkan, dan menjadi ringan ketika kita meletakkannya sejenak*. Meletakkan masalah sejenak bukan berarti lari darinya. Itu adalah jeda agar akal dan hati kembali jernih. Dalam bahasa agama, inilah yang kita latih lewat salat, zikir, dan tawakal: menyerahkan sejenak beban kepada Dzat yang Maha Mengurus, lalu bangkit dengan tenaga baru.
Puncak kebijaksanaan ini barangkali ada pada ucapan Gus Dur: masalah hidup hanya dua, yang ada solusinya dan yang tidak ada solusinya. Bila ada solusinya, kerjakan, tidak perlu pusing. Bila tidak ada solusinya, untuk apa dipikirkan terus-menerus? Itu berarti *kahanan*, keadaan yang harus diterima. Pandangan ini sejalan dengan ajaran ikhtiar dan tawakal. Kita wajib berusaha sekuat tenaga pada hal-hal yang bisa kita ubah, lalu berserah dengan lapang pada hal-hal yang di luar jangkauan kita, karena ada Allah yang mengatur segalanya.
Maka, menghadapi masalah menuntut tiga sikap yang saling bersambung. Pertama, *meyakini* bahwa masalah adalah bagian dari ujian dan pengingat dari Allah. Kedua, *mengelola cara pandang*, agar masalah tidak membesar hanya karena terus kita pikirkan. Ketiga, *bertindak dengan ikhtiar dan berserah dengan tawakal*, mengerjakan yang bisa dikerjakan dan menerima yang memang harus diterima.
Pada akhirnya, masalah bukan musuh yang harus dimusnahkan, melainkan guru yang mengajak kita kembali kepada Allah, kepada kejernihan berpikir, dan kepada ketenangan jiwa. Semoga kita termasuk hamba yang tidak larut dalam keluh, tetapi tumbuh dalam sabar dan syukur.
---